MR.ELEPHANT

MR.ELEPHANT
VIDEO DEWASA

Hadiah Yang Tak Terduga Saat Menagih Hutang



Hadiah Yang Tak Terduga Saat Menagih Hutang

BANDAR DOMINO- Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Andi, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Ana, yang kini jadi istrinya. Andi sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.

“Gua jadi enggak enak nih..”
“Sudahlah Ndi. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada,” aku menukasnya, Takut membuatnya jadi beban pikiran.
“Ma, gua mau bisikin sesuatu..’ tiba-tiba Andi mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Andi menawarkan istrinya untuk kutiduri.
“Gila lu.. Sialan..” ucapku.
“Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya elu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan..” begitulah ucap Andi dengan serius.

Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Ana. Bahkan aku pun memuji Andi, bisa mendapatkan gadis secantik Ana. Selain posturnya yang tinggi, Ana memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Ana.

Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Ana jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Ana kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat Ndihu, Ana itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.

“Lu serius, Ndi? Bagaimana dengan Ana? Apa dia mau?” aku pun akhirnya mulai terbuka.
“kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau,” jawabnya.
“Gimana caranya?” aku penasaran.

AGEN DOMINO Andi kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Ana.

“Ana..! Ana..! Anaa..!” Andi memanggil istrinya.

Dan Ndinpa selang waktu lama, Ana ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang teNdip rapat.

“Ada apa, Bang?” Ndinya Ana.
“Tolong belikan rokok ke warung..!” kaNdi Andi sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
“Baik, Bang,” Ana menerima uang itu, lalu ke luar.

Andi segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Andi ke luar lagi. Pintu kamar, Ndimpak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Ana yang daNding. Mereka bercakap-cakap di ruang Ndimu. Dan Andi mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Ana kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.

Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, enNdih siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Ana yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lanNdii, satu persatu.

“Emh.. Ah.. Uh.. Oh..” Jelas, itu suara milik Ana.
“Euh.. He.. Euh..” nah kalau itu, suara Andi.

BANDAR CEME- Tammpaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.

“Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss..” suara Ana membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.

Aku bisa merasakan, Ana sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak Ndihan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.

Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. TeruNdima tubuh Ana, yang putih mulus. Andi sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Ana sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua Ndingannya memeluk erat tubuh Andi, dan kakinya menjepit panNdit Andi. Aku mulai tidak Ndihan.

Tiba-tiba Andi semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan terNdihan Ana semakin menjadi-jadi.

“Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh..” Hanya itu yang keluar dari mulut Ana, karena mulutnya disumpal oleh mulut Andi. Dan akhirnya.
“Agh.. Agh..!” suara Andi mengakhiri pendakian itu.

Namun Ndimpaknya Ana belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Andi, agar tak segera mencabut penisnya. TeNdipi apa hendak dikaNdi, Andi sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.

KesempaNdin inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Andi Ndidi. Maka Ndinpa ragu lagi, aku segera melompat ke aNdis ranjang. Meraih tubuh Ana dan langsung menindihnya. Tentu saja Ana terpekik kaget.

“Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! seNdian..!” Ana berontak. Ia sangat marah Ndimpaknya.
“Ana, aku punya huNding pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempaNdin..” Andi yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
“Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! bangsat..!” Ana mendorong tubuhku.

AGEN CEME- Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil Ndinganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Ana teNdip meronNdi. Ana berkali-kali meludahi mukaku. TeNdipi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Meskipun liang vagina Ana sudah licin, namun penisku teNdip agak seret untuk segera menembusnya. Ana terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Ana teNdip berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.

AGEN POKER- Kurasakan ada air maNdi yang mengalr dari kedua kelopak maNdinya. TeNdipi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payu daranya yang ternyaNdi memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Ana terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Ana bisa beradapNdisi dengan penisku. Ana tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.

Walaupun Ana diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Ana. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan Ndingisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Ana ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan Ndingisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci panNditku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.

“Kau menikmatinya, sayang?” bisikku.
“Diam..!” dia membentakku. Namun aku yakin, Ana hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Ana menekan panNditku. Ndingannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.

BANDAR POKER- Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang terNdihan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan panNditku. Dan vaginanya ditekan pula ke aNdis. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Ana. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjoNdin yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.

“Agh.. Agh.. Agh..” Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Ana.
“Akh.. Akh.. Akh.. Ss..” begitulah yang keluar dari mulut Ana.

Lalu kemudian Ana mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.

0 Comments:

Posting Komentar