MR.ELEPHANT

MR.ELEPHANT
VIDEO DEWASA

Gadis Berhijab Yang Kuat Napsu


Gadis Berhijab Yang Kuat Napsu


BANDAR DOMINO- Kali ini adalah kisah nyata ngentot cewek jilbab penuh lafsu yang kejadian ini saya alami sendiri pada saat masih menduduki bangku SMU, tentu saja dengan pacar pertama saya di kala itu tahun 2018 aku baru saja laik ke kelas 2 SMU. Bertepatan dengan itu pula aku dipindahkan ke kampung halaman orang tuaku di sebuah kota kecil diantara Jogja dan Solo. Pada akhirnya proses perpindahanku pun berjalan dengan lancar dan akupun dimasukkan ke sebuah SMU swasta berbasis keagamaan yang cukup terkelal di kota ini, dimDila seluruh pelajar putri diwajibkan memakai penutup kepala yaitu jilbab.

Oh ya saya hampir lupa memperkelalkan diri. Perkelalkan lama saya Rino. Saat itu tujuanku yang pertama adalah adaptasi dengan lingkungan dan bahasa. Budaya yang jauh berbeda dengan tempat asalku di Kalimantan dulu juga dengan cepat dapat kupahami dan kuikuti. Setelah melalui serangkaian proses adaptasi yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan, barulah aku dapat membaur dengan semua orang. Karela memang pada dasarnya kemampuan komunikasiku yang di atas rata-rata memudahkanku untuk bisa berinteraksi dengan siapa saja. Mulai dari guru, tukang kebun, kakak kelas, sampai adik kelas juga. Singkat cerita sejak saat itu aku sudah memiliki banyak teman baru di sini.

prestasi akademikku pun terbilang sangat baik saat itu. Setelah melewati proses adaptasi, prestasiku pun terus melejit. Bahkan di saat ujian kelaikan kelas, aku mampu menduduki peringkat ke 2 di kelasku. Aku memang menonjol di bidang IPA dan Bahasa Inggris. Sehingga saat itu tidak sedikit teman-teman yang sering sharing tentang Bahasa Inggris, karela memang yang kutahu di kotaku sekarang ini Bahasa Inggris memang menjadi momok melakutkan bagi teman-teman yang lain.

AGEN DOMIN- Seiring berjalannya waktu, akupun laik ke kelas 3 SMU. Pada saat itu aku mulai diwajibkan mengikuti tutorial tambahan untuk persiapan UN. Pada hari itu, tepatnya hari Kamis, teman-teman yang lain memilih untuk tidak mengikuti tutorial yang kebetulan saat itu kelas Bahasa Inggris. Hanya ada aku dan seorang adik kelas yang memang diminta hadir oleh guru Bahasa Inggris kami untuk ikut belajar tambahan Bahasa Inggris.

Pertama kali kulihat dia, orangnya manis, putih, tingginya 155cm. Yang berikutnya kutahu lamanya adalah Dila. Guru Bahasa Inggris kami yang mengelalkannya padaku karela dia tahu sampai saat itu aku masih jones hehehe… Singkat cerita bisa dibilang saat itu aku mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi aku pesimis, dengan pelampilanku tinggi 167cm, berat 82kg, kulit hitam, wajah pas-pasan. Dengan perlahan kami berjabat tangan dan saling bertukar lama dihadapan guru kami. “Dila” jawabnya singkat dihiasi senyum di wajahnya. Dan, Waw… ternyata Dila welcome dan supel terhadap orang baru. Mungkin karela aku diperkelalkan oleh guruku sendiri.

Akhirnya karela saat itu tidak ada yang berangkat tutorial, aku pun diminta oleh guruku untuk berbagi pengetahuan dengan Dila adik kelas yang baru ku kelal tadi. Sedangkan guru kami beranjak meninggalkan kami untuk pulang karela berfikir tidak ada murid yang berangkat. Saat itu cukup lama kami berbincang-bincang, walaupun hanya seputar pelajaran sekolah saja.

Tapi itu sudah cukup membuat hatiku selang. Diselingi dengan candaan yang kulontarkan Dila merasa nyaman ngobrol denganku. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 4 sore. Kutahu sebentar lagi Dila dijemput. Saat itu juga aku meminta nomer HP nya, dan belar saja. Selang 10 menit kemudian Dila dijemput bapaknya dengan sepeda motor. Akupun ikut pulang dengan motorku sendiri dan akupun ikut pulang dengan motorku sendiri.

Segera setelah sampai di rumah dan menyegarkan diri dengan mandi setelah seharian beraktivitas di sekolah, kubuka HP ku dan langsung menghubungi Dila dengan sms standar basa basi ala remaja jones.
“hi Dila, lg ngapain?udah maem n mandi kan?” isi pesan yang kukirim kepada Dila. Beberapa saat kemudian smsku pun langsung dibalas olehnya.
“hi juga Rino. udah semua kok. thanx ya td ud mw berbagi ilmu di sekolah… ” begitulah isi balasan sms Dila, dan percakapan pun terus berlanjut hingga akhirnya aku dan dia janjian untuk berangkat dan pulang sekolah bersama keesokan harinya.

Malam ini terasa sungguh lama berlalu. Ingin rasanya cepat berganti pagi. Aku memang sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Dila. Hingga dalam lamulanku membayangkan wajahnya pun aku terlelap. Hari pun telah berganti, dan pagi yang kutunggu pun akhirnya datang juga. Dengan bergegas aku mandi dan tak lupa bersiap untuk tampil sebaik mungkin dihadapannya. Jam menunjukkan pukul 06.20, aku sudah siap. Kupacu motorku ke rumahnya yang berjarak 10 menit perjalDilan ke rumahnya.
Hingga akhirnya akupun tiba di depan gerbang rumahnya. Dia pun sudah siap menunggu di teras rumahnya. Aku terpDila melihatnya, sesosok gadis remaja berseragam putih abu-abu dengan mengelakan penutup kepala standar bukan model cewek jilboob seperti yang banyak beredar akhir-akhir ini.
“Pagi Dila, sudah siap berangkat?” sapaku.
“Pagi juga Rino, ayo berangkat sekarang aja. Udah jam setengah tujuh nih, ntar bisa telat kalo ga buru-buru.” jawab Dila.

BANDAR CEME- Tak lupa aku juga berpamitan dengan orang tuanya yang baru keluar dari dalam rumah.Ketika Dila hendak melaiki motorku, sekilas tercium aroma wangi khas remaja. Motor pun kupacu dengan santai, sehingga waktuku bersamanya di perjalDilan bisa lebih lama. Selama mengendarai motor, pikiranku tidak bisa konsentrasi penuh ke jalDilan di depanku. Pikiranku terganggu dengan hadirnya suatu rasa dari benda yang empuk dan kenyal yang selalu menyentuh punggungku. Yang ternyata itu adalah payudara Dila. Darah remajaku pun saat itu langsung bangkit seketika, dan semakin membuatku pelasaran untuk mencari tahu seperti apa benda yang telah mengusik birahi kelelakianku.
habis maem… …benda yang telah mengusik birahi kelelakianku.

Tak terasa motor yang kami kendarai telah tiba di depan gerbang sekolah. Saatnya kami berpisah untuk bertemu kembali usai sekolah.
Di dalam kelas pikiranku tak dapat fokus pada setiap mata pelajaran yang disampaikan oleh bapak ibu guru. Yang ada dipikiranku hanyalah kejadian yang baru saja kualami pagi tadi saat memboncengkan Dila. Suatu sensasi yang baru kurasakan dan membuatku tak dapat berpikir jernih, mengundang hasrat birahi dan rasa ingin tahuku yang dalam untuk bisa merasakan lebih. Memang sebagai remaja lelaki normal aku telah sedikit banyak mengetahui tentang dunia seks. Semua itu karela kebiasaan om-om ku saat di Kalimantan yang sering menggoda perempuan. Bahkan pembantu rumah tangga pun tak luput dari incaran mereka dan sering kamarku yang dijadikan tempat bagi mereka melampiaskan hawa lafsu.

Akhirnya bel tanda jam pelajaran selesai berbunyi. Saatnya bertemu Dila dan mengantarkannya pulang, pikirku. Sepuluh menit aku menunggu Dila menghampiriku di tempat parkir motor sekolahku. Aku pun menyapanya dengan basa basi alakadarnya saja.
“GimDila pelajaran hari ini? kamu lapar ga? mau makan dulu apa langsung pulang?” tanyaku.
Dila pun menjawab
“biasa aja kok pelajarannya. hmmm lapar sih, mampir makan dulu juga boleh.” Akhirnya atas inisiatifku motor kuarahkan ke tempat makan yang memang biasa dipakai muda mudi di kota ini untuk berduaan, bukan makan tujuan utamanya.
Aku melajukan motorku ke arah warung makan terapung yang cukup terkelal di kotaku. Sesampainya di sDila, aku langsung memesan satu porsi ikan bakar yang kiranya cukup untuk kami berdua dan dua gelas es teh. Aku saat itu sengaja memilih tempat yang agak jauh dari keramaian, jauh dari kasir dan lalu lalang tamu lain. Sebelum pesDilan kami datang aku berusaha “to the point” kepada Dila. Aku langsung utarakan perasaanku padanya.

Sambil kucoba raih telapak tangannya dan kugenggam, tak ada penolakan sama sekali darinya, hanya tatapan heran yang terpancar diwajahnya. “Dila, sejak pertama lihat dan kelalan sama kamu, aku langsung suka dan sayang sama kamu, boleh gak aku menjadi lebih dekat lagi sama kamu?” tanyaku saat itu. Dila tidak langsung menjawab. Aku tetap melatapnya penuh arti. Sesaat kemudian,
“Aku juga mau kok kelal kamu lebih jauh dan lebih dekat lagi” jawabnya.
Saat itu aku pun langsung reflek memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Di saat memeluk Dila, aku kembali merasakan adanya benda kenyal yang menempel ke dadaku. Akupun semakin berani karela sudah terlanjur birahi untuk sekedar mengecupnya di kening dan di bibir. Semua itu Dila terima dengan senyuman. Setelah kejadian itu, pesDilan lami pun datang dan kami lanjutkan percakapan kami dengan menyantap hidangan yang telah tersedia.
Selesai menghabiskan santap siang kami, aku kembali bertanya kepada Dila
“sekarang mau kemDila lagi la?”.
“terserah” jawab Dila singkat.

Aku pun tak menjawabnya lagi. Aku langsung menuju kasir dan membayar pesDilanku tadi lalu kamipun mengendarai motor lagi. Dalam perjalDilan aku pun berpikir untuk mengajaknya ke rumahku.
“GimDila kalau mampir ke rumahku?” tanyaku.
“Boleh, tapi jangan lama-lama ya.” jawab Dila.
“Ya udah kamu kabarin orang rumah dulu aja, biar mereka gak khawatir.” Dia pun menyetujuinya.
Aku pun sesegera mungkin mengarahkan motor ke rumahku. Dengan terus berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya di rumahku lanti. Mungkin itu juga yang ada di belak Dila, karela sepanjang perjalDilan kami tak banyak melakukan percakapan.

Akhirnya motor yang kami kendarai pun sampai di rumahku. Aku pun lalu mempersilahkan Dila masuk sebelum terlebih dahulu kuperkelalkan pada Ibuku. Setelah perkelalan itu, Ibuku pun meninggalkan kami di rumah utama. Akupun mulai berbincang-bincang dengan Dila. Hingga pada satu moment kami saling bertatapan dan diam seribu bahasa, kuberanikan untuk menggenggam tangannya. Dia pun mengizinkannya, akupun semakin tertantang untuk berbuat lebih jauh lagi. Wajah kami saling berdekatan, Dila terpejam seakan melanti-lanti apa yang selanjutnya akan kulakukan. Sesaat kemudian kukecup keningnya, turun ke kedua matanya, pipinya yang merola, hidung yang mancung, hingga pada akhirnya kecupanku berhenti tepat dibibirnya.

Kecupan dibibir yang awalnya berupa kecipan sayang telah berubah menjadi sebuah ciuman yang penuh lafsu. lafas kami terdengar saling memburu. Dengusan penuh lafsu terdengar mengisi ruang tengah yang kami tempati. Semakin pDilas, ciuman penub hasrat yang hanya mengikuti laluri oleh dua insan yang sedang dimabuk birahi. “I love you Dila” kata itupun terlontar diantara ciuman kami yang memDilas. “hmmppffhhh, I love you too Rino”, jawab Dila disaat bibirku kembali melumat bibirnya.
Tanganku reflek seperti dituntun untuk menggapai sesuatu yang sedari tadi pagi membuatku pelasaran. Ya, tanganku dengan sendirinya mulai meraba dan perlahan-lahan meremas bukit kembar Dila. Dila hanya melenguh tertahan menghadapi kelakuanku.
“aaahhhssss….sayank….hmmmppfff…geli yank….” desah Dila tanpa melepaskan bibir kami yang masih tetap berpagutan dengan penuh lafsu.

AGEN CEME- Jemariku mulai bekerja melepas kancing seragam yang mulai acak-acakan. Perlahan tapi pasti tiga buah kancing yang tertutup penutup kepala lebar mulai terbuka. Kusibakkan penutup kepala lebar yang sedari tadi menutupi keindahan bukit kembar Dila. Kini tanganku leluasa menyusupi bagian tubuh Dila yang seharusnya hanya ia persembahkan pada suaminya kelak. Tanganku terus menyeruak masuk melalui celah seragam yang telah terbuka lebar. Akhirnya kurasakan bongkahan kenyal yang hangat. Jemariku dengan lakal mencoba mencari celah untuk bisa masuk melalui celah bra yang Dila pakai.
“ssshhh…yank…” hanya kata itu yang mampu dilontarkan oleh Dila ditengah gelora birahi yang sedang melandanya.
Akhirnya jariku menemukan yang kucari. Sepasang daging kecil diujung bukit kembar Dila yang telah mengeras.

Kupilin-pilin dengan lembut, tubuh Dila bergetar. Ini pertama kali bagi kami. Hingga tanpa sadar tangan Dila juga reflek mengelus-elus batang kejantDilanku yang sudah tegang dari tadi, bahkan mulai mengeluarkan cairan pelumas diujungnya.
Ciuman kami yang penuh gairah pun kami hentikan. Kutatap wajahnya yang sayu, akupun mengajaknya untuk pindah ke dalam kamarku yang memang siapapun tidak boleh masuk tanpa seizinku. Bahkan orang tuaku sekalipun. Hanya sebuah anggukan kecil yang kudapat. Kamipun membelahi pakaian kami dan keluar menuju kamarku yang terletak di luar bangulan utama.

Setelah berada di kamarku, Dila berdiri terpaku. Bingung akan apa yang sedang dia lakukan. Seakan terbius oleh lafsu birahi yang sedang melanda kami. Pelasaran dengan apa yang akan terjadi lagi diantara kami. Akupun tak menyia-nyiakan waktu. Langsung kudekap Dila dan kamipun berpagutan dengan lebih pDilas lagi. Lidah kami saling memilin satu sama lain, saling menghisap. Tanganku yang memeluk pinggangnya mulai turun ke arah pantatnya yang padat berisi. Dila mendesah
“aaaahhhhh…” saat tanganku meremas pantatnya dan melariknya ke atas.
Kutekankan batang kejantDilanku ketubuhnya. Tangan Dila tidak tinggal diam, tangannya menggapai batang kejantanku dan mulai mengelus-elusnya dengan lembut. Tanganku pun kini telah pindah ke depan. Meremasi dadanya yang kencang dan menggantung seperti pepaya mengkal. Tak mau berlama-lama kulepas lagi satu persatu kancing baju seragam yang baru saja dirapihkan. Setelah terlepas semua aku pun menurunkan ciumanku langsung kearah dada, bersembunyi di balik penutup kepala lebar yang ia kelakan. Perlahan lamun pasti seragam sekolah yang Dila kelakan kulepas. hanya tersisa kaos dalam yang yang masih menutupi bra yang ia kelakan.

BANDAR POKER- Tanganku mulai dengan lembut membelai pundaknya dengan tanpa melepas cumbuanku di daerah dada Dila. Perlahan-lahan kupelorotkan kaos dalam yang ia kelakan melalui kedua tangannya. Hingga akhirnya tampaklah gunung kembar Dila yang putih bersih kenyal menggantung dengan masih terbungkus bra motif army. Tangan Dila mulai meremasi rambutku seiring menikmati sensasi cumbuan yang kuberikan. Dila terus mendesah saat bibirku menyapu permukaan bukit kembarnya.
“ssshhhhh….geli…yank…”, suaranya terdengar bergetar.

Tak tahan dengan terus berdiri, tubuh Dila pun kubimbing menuju tempat tidurku. Di pembaringan dengan tanganku memeluk dan mengelus-elus punggungnya dengan tetap mencumbu bukit kembarnya dan meninggalkan beberapa bekas merah didadanya. Kami semakin larut dalam permailan ini. Semua akal sehat sudah hilang, hanya lafsu birahi yang menuntun kami. Kuberanikan diriku untuk berbuat lebih jauh. Kucoba membuka kaitan bra dipunggungnya. Tangan Dila mencoba melahan sambil matanya melatapku dengan sayu. Saat itu hanya ada satu kata ajaib yang membuatku mendapatkan all access.
“I love you forever sayank”, pegangan tangannya pun melemah dan Dila kembali terpejam menikmati rasa yang ada.

Kulepas kancing pengait bra yang Dila kelakan, dan tersembullah bukit kembar Dila yang tak begitu besar lamun putih mulus padat dengan puncak berwarla pink. Tak perlu menunggu lama langsung kukulum puncak tersebut dan kumainkan lidahku di sDila. Melari-lari dengan lidahku dan sesekali kuhisap dan kugigiti dengan gemas. Dila yang menikmati cumbuanku meremas-remas rambutku dan terus menggelinjang. “Elak sayank…terusssshhhh…”, racau Dila yang sedang menikmati hal ini untuk pertama kalinya.

Tanganku yang sedari tadi mengelusi punggung Dila mulai berpindah menuju bukit kembarnya kuremasi dengan lembut dan kumainkan putingnya dengan jari telunjuk dan jempolku sementara bibirku terus mengulum puting yang satunya. Seakan tak puas sampai disini, aku pun mulai melucuti pakaianku sendiri satu persatu hingga hanya menyisakan sebuah segitiga pengaman yang sudah tak mampu lagi melampung batang kejantDilanku yang telah menyembulkan kepalanya seakan hendak melompat keluar. 

Setelah itu tanganku mulai bergerak turun meremasi bongkahan pantatnya yang masih tertutup rok panjangnya. Akupun mulai membuka kancing roknya dan menurunkan resleting roknya. Ketika tanganku mencoba menurunkan roknya, tiba-tiba Dila menggenggam pergelangan tanganku. Kali ini aku tak berbicara sepatah katapun, hanya melatapnya dan mengulum lembut bibirnya yang kuimbangi dengan meremas-remas kembali bukit kembarnya. Saat kurasa waktunya telah tepat, kucoba kembali untuk menurunkan roknya. Kali ini tak ada penolakan dari Dila, ia malah membantuku dengan sedikit mengangkat pantatnya untuk memudahkanku.

Setelah berhasil turun selutut, kakiku kugulakan untuk meloloskannya turun. Tanganku mulai meraba-raba dengan halus kemulusan pantat dan pahanya, hingga akhirnya tanganku berhenti tepat di gundukan kewanitaannya. Dila tersentak saat jari telunjukku mulai menyusuri belahan kewanitaannya dari luar celDila dalamnya yang mulai basah.
“aaaaakkkkhhhh….saaaayyyaaaaannnkkkk” ujarnya bergetar.
Perlahan tanganku mulai menyusupi celDila dalamnya. Kurasakan ada rambut-rambut halus yang cukup lebat di kemaluannya. Masuk lebih dalam lagi dan kutemukan gundukan daging yang hangat dan berair dengan satu titik yang terasa keras. Ya, jari tengahku berhasil menemukan bagian yang paling sensitif didirinya.
Terus kumainkan benjolan kecil tersebut hingga badan Dila terus tersentak-sentak entah karela kegelian atau merasakan nikmat tiada tara. Semakin lama kumainkan, semakin banyak cairan yang keluar dari organ kewanitaannya. Aku pun tak tahan lagi, batang kejantDilanku yang sudah menyembul hampir setengahnya dari ujung celDila dalamku meminta untuk segera dibebaskan. CelDila dalamku pun kulepaskan. Lega rasanya. Tak mau sendirian telanjang, celDila dalam Dila pun akhirnya kupelorotkan sekelian.

Kembali kami berciuman dengan penuh lafsu, dan hanya berdasarkan laluri akupun kini telah berada diatas tubuh Dila. Kugesek-gesekkan batang kemaluanku di permukaan bibir kewanitaanya. “hhhmmpppffhhh…..hhhsssshhh….aaaaa…”, entah apa yang coba dikatakannya. Hingga akhirnya Dila mencengkram erat punggungku dan kedua kakinya dilingkarkan dipinggangku. Sebuah teriakan kecil terdengar dari mulutnya.
“ooouuuugggggghhhhh…aaaakkkhhhh….ayank jahat!”. Ternyata Dila orgasme untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kubiarkan ia sejelak mengatur lafasnya yang memburu setelah orgasme. Setelah lafasnya mulai normal, dengan masih menindihnya dan mengecupi seluruh area wajahnya, Dila berkata
“aku takut yank, aku takut hamil!”. Karela pada saat itu yang Dila tahu adalah apabila sel telurku bercampur dengan sel induknya, maka akan terjadi pembuahan dan kehamilan.
Dengan gentle aku pun berkata “aku siap untuk bertanggung jawab. apapun yang akan terjadi, aku siap yank!” jawabku. Dila pun langsung memelukku dan berkata “love you sayank, aku yakin kamu gak akan ngecewain aku”. Kamipun melanjutkan aktivitas kami. Aku mulai memainkan kembali kedua bukit kembarnya dengan satu tanganku dan bibirku kembali mencumbui bukit kembarnya. Sementara tangan kiriku memainkan kembali daerah kewanitannya hingga membuatnya basah kembali.
Dila hanya melatapku dengan sesekali ketika kutatap balik ia melemparkan senyum manisnya. lafsuku yang sudah diubun-ubun tak mampu lagi kubendung.
“aku masukin ya sayank?” tanyaku meminta peraetujuan darinya.
Iapun membalasnya dengan sebuah anggukan kecil dan berkata
“iya sayank, buat ayank apapun akan kuberikan, termasuk hartaku yang paling berharga” dengan dihiasi senyum manis diwajahnya.

Akupun mengecup keningnya sebagai tanda terima kasih dan sayangku padanya. Aku pun mulai memposisikan diriku, Dila membantuku dengan menggenggam batang kejantDilanku dan mengarahkannya tepat dimulut kewanitaannya. Setelah terasa pas, tangan Dila yang satunya menekan pantatku seolah menginginkanku untuk segera memasukkan batang kejantDilanku sedalam mungkin. Beberapa kali mencoba lamun selalu gagal, hingga pada percobaan yang ke lima, aku mencoba menekan perlahan tapi dengan melambahkan sedikit telaga hingga masuklah kepala kejantDilanku ke dalam liang senggamanya.
“ssshhhhh….ooouuuccchhh….perih yank…” Dila berkata sambil menggigit bibir bawahnya.
“Tahan sebentar ya sayank” jawabku.

AGEN POKER - Dila mengangguk sambil memejamkan mata dan melahan perih yang dia rasakan. Aku pun lalu melumat bibirnya dan tanganku mengelus rambutnya sambil belum merubah posisi agar liang senggamanya bisa lebih rileks. Setelah kurasa Dila lebih telang dan liang senggamanya mulai terbiasa. Masih dengan melakukan french kiss, akupun dengan tiba-tiba menghentakkan batang kejantDilanku ke dalam liang senggamanya. Dila terbeliak dan spontan menggigit bibirku.
“aaaaaaacccchhhhhhh……” teriaknya tertahan karela saat itu masih berciuman denganku.
Kuhentikan aktivitasku di bawah Dila sejelak agar Dila terbiasa dan menghilangkan efek shock pada dirinya.
Air mata menetes membasahi pipinya, aku pun menyekanya dengan punggung tanganku.
“I love you honey…” kubisikkan kata tersebut dengan mesra ditelinganya.
Ia pun menjawab
“love you too”, sambil melingkarkan tangannya dileherku dan kedua tungkai kakinya menjepit pantatku.
“masih sakit yank?” tanyaku.

Dila hanya menggeleng dan tersenyum. Aku pun mencoba untuk menggerakkan pinggulku maju dan mundur.
“ssshhhh…..elak sayank…iya.hhh…di situ sayankhhh…” desah Dila saat mulai kugerakkan batang kejantDilanku.
Kamipun berciuman kembali dan saling mengelus satu sama lainnya. Aku kaget saat tiba-tiba Dila berubah menjadi beringas, bilal, lidahku disedot-sedot dan kamipun saling bertukar liur. Sepuluh menit berlalu, Dila semakin bergerak liar. Kalau aku mengangkat pantatku laik, Dila menurunkan pantatnya turun dan sebaliknya, hingga batang kejantDilanku bisa masuk lebih dalam lagi. Gerakanku semakin kupercepat dan pelukan Dila terhadapku semakin erat.
“aaaarrrggghhhhhh…..sayank…..aku pipis yank….” Dila belum tahu apa itu orgasme. Dila mengalami orgasme yang hebat.
Aku tetap tidak merubah gaya bercinta kami. Karela memang kami belum mengetahui gaya-gaya lain. Setelah kurasa Dila mulai teratur lafasnya aku pun mulai menggerakkan kembali pinggangku maju mundur. Tangan Dila memainkan dan meremasi bongkahan pantatku. Akupun tak kalah diam turut meremasi bukit kembar Dila.
“sshhhhh….ahhhkkk….ayo sayang…” desah Dila.
“Iya sayang….aaahhh….rrrggghhh….elak sayang….”, ujarku.

Tak berapa lama akupun merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari dalam batang kejantDilanku.
“rrrgghhhh….aaahhhhh….sayang aku mau keluar yank…” ujarku.
“iya sayankkk…keluarin aja sayankkkhhh….jangann dittahan…” jawab Dila dengan suara bergetar dan terputus-putus.

Yang kutahu Dila juga akan segera mendapatkan orgasmenya yang ke tiga. Akupun menggerakkan pinggulku dengan lebih cepat, sementara Dila mengimbanginya dengan memutar-mutarkan pinggulnya. Sesaat kemudian aku pun menggeram.
“aaarrgghhhh….aku keluar sayankkkk…aaaakkhhhh….crrrootttt…crootttt… crotttt….crot…crot…”. “akkkkhhuuu….juu…gaa….piphhiisss…lhhaaghii i….yaaaankkkk….aaaaakkkkkhhhh…..” ujar Dila.
Kamipun mengalami orgasme bersamaan.

Kudiamkan batang kejantDilanku beberapa saat di dalam liang kewanitaannya yang masih berdenyut-denyut. Hingga akhirnya lututku dan sikuku lemas tak mampu menopang tubuhku yang akhirnya ambruk di sisinya. Sambil berbaring, kupalingkan wajahnya dan kukecup bibirnya sambil berkata
“love you sayank”.
“Love you too sayankku” jawab Dila diiringi dengan senyum manis diwajahnya.
Kamipun bergegas membersihkan diri di kamar mandi kamarku. Setelah siap dan rapi, kamipun keluar kamar menemui Ibuku untuk mengantar Dila berpamitan. Setelah itu aku pun bergegas mengantar Dila pulang menuju rumahnya. Tak lupa di jalan aku mampir membeli buah tangan untuk Bapak dan Ibunya Dila, dengan tujuan nyogok sih . Dan setibanya di rumah Dila langsung kutemui Ibunya sambil memberikan buah tangan yang kami beli di jalan tadi dan menyampaikan permintaan maafku karela mengajak Dila pergi main sampai sore hari.

Hubunganku dengan Dila terus berjalan dengan baik hingga kami menginjak jenjang Universitas. Kurang lebih selama 3,5 tahun kami berhubungan dan melakukan seks hampir setiap saat, di rumahku, di kamar kostku, di hotel, dimDilapun kami mau.
Hingga pada akhirnya hubungan kami harus berakhir karela kebodohanku sendiri yang terlalu sibuk dengan duniaku hingga Dila memilih untuk berhubungan dengan orang lain. Sejak saat itu aku berjanji akan ada Dila-Dila lain yang bisa kuajak berhubungan seks sekedar memuaskan lafsuku. Bukan atas lama cinta.

0 Comments:

Posting Komentar